Dimsum Di Geylang
Read the blog at http://blog.prilaquin.com/2008/05/11/dimsum-di-geylang/
Read the blog at http://blog.prilaquin.com/2008/05/11/dimsum-di-geylang/
Read the blog at http://blog.prilaquin.com/2008/04/18/langkahku-dimulai-kembali/
Read the blog at http://blog.prilaquin.com/2008/04/11/guna-kartu-kredit/
Read the blog at http://blog.prilaquin.com/2008/03/27/computer-rusak/
Read the blog at http://blog.prilaquin.com/2008/03/17/sebulan-berlalu/
Read the blog at http://blog.prilaquin.com/2008/03/07/blog-perdana-kedua/
Sukses... Apa itu? Jangan definisikan sukses sebagai sesuatu yang sangat besar, sangat luas, dan sangat sulit untuk didefinisikan. Lihatlah sukses sebagai 1 scoop kecil saja. Saat ini, sukses untuk saya adalah apabila berhasil menulis blog tentang "Sukses" ini sendiri.
Sering kali kita mendengar ucapan-ucapan kekaguman yang menyatakan bahwa si A sudah sukses, ucapan rasa sayang tentang si B yang belum sukses, atau kecaman mengenai si C yang tidak suses. Itu anggapan kita mengenai mereka. Tapi apakah si A, si B, atau si C yang menjalaninya berpikiran sama seperti kita? Belum tentu.
Our business in life is not to get ahead of others, but to get ahead of ourselves.. to break our own records, to outstrip our yesterday by our today.
Hanya orang yang punya target dan tujuan dalam hidup, sekecil apapun itu.. yang dapat meraih sukses. Kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain untuk menilai kesuksesan diri kita sendiri. Saat kita memecahkan rekor kita sendiri, saat kita bisa lebih baik daripada kemarin.. lebih baik daripada tadi pagi.. lebih baik daripada 1 jam yang lalu, atau bahkan 1 menit yang lalu.. saat itu lah kita sudah mengalami sukses. Saat kita mengatakan kepada diri kita sendiri "aku harus lakukan hal itu" dan hal tersebut berhasil kita lakukan.. saat itu juga kita sudah mencapai sukses.
Seringkali kita merasa bahwa dalam hidup kita tidak ada yang benar. Kegagalan demi kegagalan datang silih berganti dalam kehidupan sehari-hari. Apakah benar-benar ada orang yang selalu gagal dalam hidupnya? Tidak ada! Kutipan-kutipan di bawah ini bisa menjadi buktinya:
Sometimes, for some people, the only way is the wrong way. Even a stopped broken clock is correct twice a day. Success is how high you bounce when you hit bottom. Success is sweet and sweeter if long delayed and gotten through many struggles and defeats.
Bukankah itu benar? Terkadang semua jalan yang benar seperti tertutup, berkabut. Satu-satunya jalan yang bisa kita ambil mungkin merupakan jalan yang salah. Tapi itu bukan berarti kegagalan. Terkadang, jalan yang salah itu bisa berubah menjadi jalan yang benar bila kita bisa melaluinya dengan benar. Bahkan sebuah jam dinding yang sudah rusak, tidak bergerak sama sekali pun bisa menunjukan waktu yang tepat setidaknya dua kali dalam sehari. Saat kita bangkit kembali saat kita jatuh, berjuang dan terus berjuang untuk memperbaiki segala kesalahan dan kegagalan kita.. Saat itu lah kita mengalami sukses.. dan saat itu akan terasa begitu indahnya.
Saya lihat kehidupan saya sekarang.. seringkali saya bingung. Apakah sukses sudah menghampiri hidup saya? Saya lihat kehidupan teman-teman seperjuangan saya. Menurut saya beberapa dari mereka sudah sangat sukses. Seorang teman saya sudah mengepalai entah berapa restaurant dan ganjinya entah sudah berapa kali lipat di atas saya. Saya anggap dia sukses. Tapi katanya... apa yang dia raih belum cukup. Anaknya yang sudah mulai mau masuk sekolah menuntut tingkat kehidupan yang lebih lagi. Belum sukseskah dia? Kalau dia belum... bagaimana dengan saya?? Menurutnya, mungkin orang yang punya usaha sendiri akan mempunyai hidup yang lebih baik. Saya lihat lagi kehidupan teman saya yang lain.. teman yang punya usaha sendiri. Sukseskah dia? Menurutnya... tidak! Dia tidak suka dengan usaha yang diberikan oleh orang tuanya kepadanya.. dia lebih menginginkan kemandirian, kebebasan, dan hidup berjuang bersama dengan orang yang dicintainya. Hal-hal itu tidak dapat dimilikinya dengan perusahaan yang dimilikinya. Belum sukseskah dia??
Saya yakin sekarang, sukses tidak bisa dilihat dari satu sisi kacamata. Sukses tidak mungkin didapat dalam segala segi dalam waktu yang bersamaan. Sukses adalah penilaian diri kita sendiri, pada setiap aspek kehidupan. Mungkin dalam satu aspek dalam satu waktu tertentu, saya sudah mengalami sukses. Tetapi masih banyak sukses-sukses yang harus saya raih. Dan telah banyak sukses-sukses yang telah saya lewati.
Success in its highest and noblest form calls for peace of mind and enjoyment and happiness which come only to the man who has found the work that he likes best. Success is the person who year after year reaches the goals in his field.
Yah, saya akui.. cukup banyak orang yang menganggap hidup saya sekarang sudah sukses. Tetapi diri saya begitu rendahnya memandang diri saya sendiri (dan pemberian Tuhan kepada saya..) Hal ini harus saya hentikan. Saya sadar sekarang, apapun yang saya alami, apapun yang saya jalankan.. telah begitu banyak sukses yang saya lewati dan Tuhan berikan kepada saya. Saat saya berhasil belajar berjalan, saat itu saya meraih sukses. Saat saya lulus SD, lulus SMP, lulus SMA, lulus kuliah.. saat-saat itu saya meraih sukses. Saat pertama kali mendapatkan pekerjaan, gaji pertama saya, promosi pertama saya.. saat-saat itu saya raih sekian banyak sukses. Saat saya harus keluar dari pekerjaan, saat saya harus mengulang kembali gaji saya dari awal, apakah itu kegagalan? Bukan, itu bukan kegagalan. Karena saat itu lah saya memiliki cita-cita.. saya harus mendapatkan pekerjaan, saya harus meningkatkan mutu pekerjaan saya, saya harus mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Dan setiap saat saya mendapatkan sedikit demi sedikit dari apa yang saya harapkan, saat itulah saya meraih dan meraih kembali sukses. Jadi, jangan pernah menyerah, jangan pernah berhenti berharap. Tentukan goal anda hari demi hari. Apa yang mau anda raih hari ini? Apa yang harus anda selesaikan hari ini? Kerjakanlah, lakukanlah.. dan nikmatilah sukses anda di hari ini.
Banyak orang yang menyalahkan nasib atas hidupnya, mengatasnamakan takdir atas kegagalan sementara yang dia peroleh. Hal ini sangatlah tidak bijaksana karena pada dasarnya semua orang lahir di dunia ini dengan segala kekurangan dan kelebihan yang pasti dimilikinya.
Success in life comes not from holding a good hand, but in playing a poor hand well. Success means only doing what you do well, letting someone else do the rest. Success is a matter of viewpoint.. The pessimist sees the bottle as half empty, the optimist sees it as half full. Opportunities? They are all around us... There is power lying latent everywhere waiting for the observant eye to discover it.
Dalam satu acara televisi, saya mendengar seorang berkata, "Segala sesuatu bila ditekuni dan dijalankan dengan serius.. pasti akan membuahkan hasil, bahkan bila itu berupa kebodohan. Contohnya... lihat saja si Bolot bintang film yang terkenal karena ke"Bolot"an nya.. Terkenal dan sukses karena "kebodohan yang ditekuni." Jadi? Tunggu apa lagi.. tentukan target anda hari ini dan raihlah sukses anda hari ini. Jangan takut untuk gagal, jangan takut untuk berkorban, dan jangan takut untuk menderita untuk meraih sukses. Jangan lupakan orang-orang di sekitar kita karena mereka adalah bagian dari sukses kita. Orang-orang di sekitar kitalah yang membantu kita untuk mencapai sekian banyak sukses yang telah kita lewati. Jangan pernah "terbang" dan lupa diri karena kesuksesan kita. Terkadang, harus kita terima bahwa dalam kesuksesan kita selalu ada pengorbanan dan dengan pengorbanan itulah kita raih kesuksesan. Ada kutipan dari sebuah bacaan yang cukup menggetarkan hati saya..
There's always something about your success that displeases even your best friends. Success and suffering are vitally and organically linked. If you succeed without suffering, it is because someone suffered for you; if you suffer without succeeding, it is in order that someone else may succeed after you.
Apakah kutipan di atas benar? Bila benar... dimana letak kesuksesan itu? Sekali lagi saya katakan.. Tidak ada penilaian yang benar dan akurat untuk hal ini. Hanya diri kita sendiri, harapan kita sendiri, tujuan kita sendiri, dan penilian diri kita sendiri lah yang dapat menjawabnya.
Some people are at the top of the ladder, some are in the middle, still more are at the bottom, and a whole lot more don't even know there is a ladder.
Yang harus kita lakukan sekarang adalah, temukan dimana tangga itu berada. Tangga itu pasti ada bila kita mau melihatnya. Kesuksesan pasti dapat kita raih bila kita bisa menentukan apa yang mau kita raih. Saya sudah raih sukses saya hari ini.. karena saya telah berhasil menulis blog tentang sukses... yang sudah menjadi keinginan saya dalam beberapa hari ini.
Sepertinya saya sedang suka menulis blog seputar tilang, tetapi semoga ini yang terakhir :) Tergerak dari pengalaman saya belum lama ini mengenai proses dan prosedur pelanggaran lalu lintas, tilang, dan penyelesaiannya, saya akan mencoba untuk memberikan pilihan-pilihan yang dapat dilakukan bila anda menemui masalah ini. Saya tidak akan menyebut ini sebagai tips, karena dari beberapa tips yang saya dapatkan dari sejumlah website mengenai pelanggaran lalu lintas dan tilang, ternyata masing-masing orang memiliki pengalaman dan hasil yang berbeda-beda dari apa yang mereka 'lakukan'.
Di sini saya akan memberikan langkah-langkah yang dapat anda lakukan saat 'menyadari' bahwa anda baru saja melakukan pelanggaran lalu lintas, dimana setiap langkah mungkin memiliki 'resiko' sehingga pada akhirnya anda sendiri lah yang 'berhak' menentukan langkah mana yang akan anda ambil. Tips untuk membaca langkah-langkah ini adalah: Baca langkah yang ada secara berurutan mulai dari nomor 1. Bila resiko terlalu besar dan langkah itu tidak ingin anda ambil, lupakan langkah tersebut dan beralihlah ke langkah berikutnya. Bila anda ingin mengambil langkah itu maka ada 2 kemungkinan yang akan terjadi yaitu masalah anda selesai, atau anda tetap harus melanjutkan ke langkah berikutnya. Demikian seterusnya sampai langkah terakhir. Bacalah setiap langkah sampai akhir blog ini supaya anda tidak mengambil keputusan yang salah :)
Mari kita mulai. Tentu saja langkah yang paling tepat dan utama adalah sebisa mungkin tidak melakukan pelanggaran lalu lintas. Tetapi, yah.. namanya juga manusia.. Saat anda (ketahuan) melakukan pelanggaran lalu lintas dan ada polisi yang meniup peluit atau memberikan tanda apapun supaya anda memberhentikan kendaraan anda, langkah yang dapat anda ambil adalah:
1.
Jangan pedulikan polisi tersebut. Pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar, lajukan kendaraan anda seperti tidak terjadi apapun.
Resiko: Kemungkinan besar anda tertangkap dan pada akhirnya tetap harus menghentikan kendaraan anda yang mengakibatkan pelanggaran yang anda lakukan lebih besar.
2.
Berhentikan kendaraan anda, ucapkan salam kepada si polisi. Mintalah (dengan sopan) agar si polisi menunjukan kartu ID polisi nya kepada anda sebelum anda memberikan SIM/STNK kepadanya. Ini adalah hak anda, karena bila tidak dapat menunjukan ID Card maka polisi tersebut tidak berhak menilang anda. Katakan saja (dengan sopan) bahwa SIM/STNK anda pernah hilang diambil oleh polisi gadungan. Catat/ingat baik-baik nama dan nomor ID si polisi. Hal ini ditujukan agar polisi itu tidak berbuat "macam-macam" dengan SIM/STNK anda.
Resiko: Jika ini anda lakukan, jangan berharap anda dapat melakukan "transaksi damai" atau pembayaran di tempat. Sudah dapat dipastikan anda akan melalui proses tilang karena polisi yang sudah dicatat nama dan nomor ID nya tidak akan berani untuk melakukan hal diluar prosedur.
Jika langkah ini yang anda ambil, lewati langkah 3-5, bacalah langsung langkah 6.
3.
Untuk menghemat waktu dan uang, "transaksi damai" sering terbukti jauh lebih irit dari prosedur apapun. Jangan membela diri sekalipun anda (merasa) tidak bersalah, karena sekali sudah diberhentikan oleh si polisi, itu sudah berarti bahwa anda 'bersalah'. Yang menjadi pertanyaan adalah, berapa jumlah uang yang pantas anda keluarkan untuk melakukan "transaksi damai" ini. Saran saya, mulailah dengan Rp10.000 bila anda naik motor dan punya SIM, Rp30.000 bila anda tidak punya SIM ; mulailah dengan Rp20.000 bila anda naik mobil dan punya SIM, Rp40.000 bila anda tidak punya SIM. Note: Angka ini mungkin bisa berubah beberapa tahun ke depan ;)
Resiko: Di beberapa tempat dan untuk sebagian polisi, jumlah yang saya sebutkan di atas mungkin tidak cukup dan "transaksi" belum dapat berhasil.
4.
Tambahakan jumlah uang yang akan anda keluarkan bila "transaksi" belum berhasil. Anda dapat menambahkannya sedikit demi sedikit maupun secara langsung sampai ke batas maksimum, tergantung dari mood anda dan penilaian anda terhadap mood si polisi :). Berapakah 'batas maksimum' pengeluaran anda untuk "transaksi" tersebut? Sesuaikan dengan pelanggaran yang anda lakukan, ada baiknya anda mengetahui tarif denda resmi. JANGAN jadikan itu sebagai batas maksimum. Tambahkan sekitar Rp25.000 dari tarif denda resmi tersebut untuk batas maksimum. Karena.. percaya atau tidak, pada akhirnya sejumlah itulah yang akan anda keluarkan bila mengikuti prosedur resmi. Tambahan Rp25.000 itu adalah pengganti waktu anda yang terbuang / ongkos transportasi / ongkos perkara / biaya administrasi / biaya titip sidang / mark-up denda dari hakim / mark-up tabel denda resmi di pengadilan negri setempat / ... dll.
Bila anda malas membaca tarif denda resmi, maka saran saya untuk 'batas maksimum' pengeluaran dalam "transaksi damai" adalah Rp45.000 bila anda naik motor dan punya SIM, Rp65.000 bila anda tidak punya SIM ; Rp55.000 bila anda naik mobil dan punya SIM, Rp75.000 bila anda tidak punya SIM.
Resiko: "Polisi" yang sedang "butuh uang" atau Polisi yang (terpaksa) taat peraturan dan (selalu) mengikuti prosedur bisa saja tetap menolak uang yang akan anda berikan meskipun sudah mencapai batas maksimum.
5.
Berikan berapapun jumlah yang si "polisi" minta.
Resiko: Anda bisa kehilangan banyak uang.
6.
Katakan bahwa anda setuju ditilang dan bersedia mengikuti prosedur resmi.
Resiko: Ada kemungkinan (kecil) "Polisi" yang kesal bisa "membuang" SIM/STNK anda, kecuali anda telah melakukan langkah no 2. Sekali SIM/STNK sudah berpindah dari tangan anda, kemungkinan SIM/STNK anda hilang selalu ada meskipun kecil.
Bila resiko ini sangat anda takuti, pikirkan dan baca kembali langkah 3-5 ;)
7.
Minta kepada Polisi untuk memberikan slip tilang warna biru. Note: Slip biru berarti anda menerima kesalahan anda, slip merah berarti anda tidak mengakui kesalahan anda dan karenanya bersedia untuk mengikuti sidang dan menunggu keputusan hakim. Dengan slip biru, anda tidak perlu sidang. Cukup membayar denda resmi pada BRI yang ditunjuk dan mengambil SIM/STNK anda di tempat yang ditentukan dengan menunjukan bukti pembayaran denda. Pastikan pada slip biru tertulis dengan jelas Nama dan Lokasi BRI tempat pembayaran, Jumlah Denda, dan Tempat Pengambilan Kembali SIM/STNK anda.
Resiko: Sebagian besar polisi mungkin akan mengatakan bahwa slip biru sudah tidak berlaku dan yang ada hanya slip merah. Ini berarti anda harus mengikuti sidang.
8.
Jangan ikuti tanggal dan tempat sidang. 3x24 jam setelah anda menerima surat tilang, seharusnya berkas (SIM/STNK) anda sudah/masih berada di Ditlantas MT.Haryono (dari arah Slipi melewati lampu merah Pancoran, ada di sebelah kiri). Langsung menuju ke ruangan tilang yang berAC, serahkan slip merah anda kepada petugas dan tunggu nama anda dipanggil. Tidak perlu menunggu lama, SIM/STNK anda dapat kembali saat itu juga setelah anda membayar denda. Biasanya jumlah yang harus dibayar adalah denda resmi ditambah sekitar Rp10.000 - Rp20.000 yang mereka katakan sebagai biaya "titip sidang".
Resiko: Saat anda ke Ditlantas ini mungkin saja SIM/STNK anda masih ada di tangan polisi penilang, dan ini berarti anda harus mencoba lagi hari-hari berikutnya sampai dengan sehari sebelum tanggal sidang. Selain itu, mungkin juga SIM/STNK anda malah sudah dikirim ke pengadilan negri tempat anda akan disidang. Bila ini yang terjadi, maka anda harus mengambil langkah 9.
9.
Biasanya sidang tilang pada setiap pengadilan negri hanya dilakukan seminggu sekali. Ketahui jadwal sidang tilang dari tanggal sidang yang tertulis di surat tilang anda. JANGAN datang pada hari sidang tilang. Alasan pertama adalah karena antrian akan sangat panjang, lama, dan penuh sesak. Alasan kedua adalah karena sidangnya pun belum tentu ada. Sering terjadi, meskipun itu adalah hari sidang tilang, tidak ada hakim yang datang dan pada akhirnya kita hanya berurusan dengan para petugas yang ada di pengadilan itu dan membayar denda ke mereka. Daripada berjubel dan berdesakan untuk sidang padahal sidangnya belum tentu ada, lebih baik mengambil hari lain diluar hari sidang tilang dan langsung mencari petugas/ruangan tilang untuk langsung mengurus berkas (SIM/STNK) anda dan membayar denda kepada mereka tanpa harus mengantri lama dan berdesakan.
Resiko: Kemungkinan besar denda yang harus dibayarkan akan lebih tinggi daripada bila kita mengikuti sidang resmi.
10.
Memang seringkali dengan mengikuti sidang resmi, maka yang kita bayarkan adalah benar-benar sejumlah denda resmi ditambah ongkos perkara dan bukan tidak mungkin itu jauh lebih murah daripada semua langkah yang ada di atas (bila tidak memperhitungkan ongkos, waktu, dll, dsb). Jika memang ini yang anda inginkan, datanglah tepat pada tanggal, waktu, dan tempat sidang yang telah ditentukan / tertulis pada surat tilang dan hadirilah sidang tilang tersebut. Hindari calo karena pada dasarnya apa yang bisa dilakukan oleh calo, dapat dilakukan dengan mudah juga oleh anda sendiri. Bersiaplah untuk berdesakan, berjubel, dan mengikuti prosedur yang ada. Cepat atau lambatnya proses sidang berlangsung sampai anda mendapatkan kembali SIM/STNK anda, tergantung pada keberuntungan anda di hari itu :)
Resiko: Seperti yang telah saya katakan di langkah 9, kadang tidak ada hakim yang datang. Sidang bisa saja dikatakan sudah "selesai" tanpa anda tau kapan sidang itu dimulai, dan pada akhirnya anda tetap harus membayar denda tidak resmi kepada petugas meskipun anda telah datang dan "mengantri" sesuai tanggal, waktu, dan prosedur yang ada. Hakim yang 'juga manusia' pun kadang bisa memberikan keputusan denda yang melebihi tarif denda resmi yang berlaku, tanpa kita bisa mendebatnya.
Setelah melihat semua langkah yang saya tulis di atas, silakan anda cermati kembali langkah-langkah tersebut dan lakukan yang paling sesuai dengan suasana yang ada dan suasana hati anda saat melakukan pelanggaran ;) Jujur, saat ini pun saya belum bisa menentukan langkah mana yang akan saya ambil. Harus menunggu pelanggaran terjadi, barulah saya bisa menentukan. Tetapi langkah terbaik memang selalu berusaha untuk tidak melanggar peraturan. Resiko yang ada dari setiap langkah, mungkin jauh lebih banyak daripada apa yang telah saya tulis. Pilih sendiri petualanganmu, semoga anda beruntung.
Blog ini adalah kelanjutan dari blog saya sebelumnya, yang berjudul 'Saya Kacau atau Polisi Kacau'. Jika belum sempat membaca blog tersebut, ada baiknya untuk membacanya dulu supaya lebih mengerti apa yang akan saya tulis di sini.
Tanggal 29 Mei 2007, sesuai dengan yang tertulis pada surat tilang yang saya terima tanggal 17 Mei, saya mendatangi Pengadilan Negri Jakarta Pusat di Gajah Mada. Tepat jam 9.00 sesuai dengan surat tilang, saya memasuki kantor pangadilan. Entah ada berapa ratus atau berapa ribu orang di sana. Biasa.. sejak di parkiran langsung ada yang bertanya, "ngurus tilang ya... perlu dibantu..?" Karena saya sedang sangat ingin tau bagaimana proses sidang tilang dan ingin menjalaninya sendiri, saya tidak mempedulikan dan pura-pura tidak mendengar pertanyaan orang-orang yang berniat "membantu" tersebut. Sebagai orang awam, saya bingung menghadapi dan membaca tulisan di beberapa whiteboard mengenai jadwal sidang. Sepertinya ada yang mengerti kebingungan saya dan saya mendengar suara (tidak tau dari mana), "sidang tilang di lantai dua". Oo.. ok.. terima kasih... Naiklah saya ke lantai dua.
Wah.. ramaaaaii sekali di sana, berjubel-jubel orang menyerahkan slip merah tilang ke petugas yang ada. Saya ikut berjubel, ikut menyerahkan slip merah. Tanpa ada pegangan apa-apa lagi si petugas bilang 'ya udah, sana, masuk ruang sidang (yang juga sudah sangat penuh orang)'. Sempat bingung.. kalau slip saya hilang bagaimana jadinya ya.. Kan mungkin saja hilang di tumpukan slip yang menggunung. (Tips: Berarti ada baiknya slip tilang difotokopi sebelum diserahkan ke petugas).
Jam 9.30 hakim datang. Saya berpikir, tumben "on time" (terlambat setengah jam termasuk on time loh saya pikir untuk orang "penting" dan "sibuk" seperti mereka), dan mungkin tumben 'datang'. Sidang dibuka, "terdakwa" dipanggil satu per satu. Hakim menyebutkan besar denda, mengetukan palu, dengan sebelumnya menanyakan/membacakan kesalahan orang yang di panggil sambil sedikit berkelakar. Tetapi tidak semua orang ditanya/dibacakan kesalahannya. Cukup banyak yang setelah namanya di panggil, hakim hanya berkata, "Tidak usah ke depan, langsung bayar aja biar cepat, 30ribu, ongkos perkara 2ribu." tok.. tok.. palu diketuk. Nah lho.. sidang tuh? Untungnya hakim kali ini saya nilai cukup ok, doyan bercanda. Jadi seringkali ruang sidang riuh tawa. Tetapi terkesan bahwa dia cukup 'ngasal' dalam menyebutkan jumlah denda karena beberapa orang dengan kesalahan yang sama bisa dikenakan denda yang berbeda.
Ada satu kasus yang si hakim jadi bingung sendiri setelah "terdakwa" menyebutkan apa yang menyebabkan dia ditilang. Orang itu mengatakan dia ditilang karena melewati bekas trotoar pembatas di tengah jalan yang sudah dibongkar tetapi masih ada bekasnya. Hakim berkata, "Wah, ini ada undang-undangnya ngga ya.." Orang-orang yang ada di ruang sidang banyak yang iseng menjawab, "Ngga ada kali pak.. ya udah.. bebasin aja.." Si hakim nyengir dan bertanya kepada ybs, "Saya teliti dan baca kembali undang-undangnya nanti setelah sidang selesai, atau mau bayar denda saja?" Ybs pilih membayar langsung. Alhasil.. 30ribu, ongkos perkara 2ribu. Memang saya pernah baca di suatu website, jika kita tidak setuju dengan jumlah denda saat sidang tilang maka kita berhak mengajukan kasasi. Tetapi kasasi itu akan dilakukan di ruangan lain dan di waktu yang lain yang semuanya tidak jelas dan prosedurnya juga tidak jelas. (Tips: Berarti selagi mampu bayar, jangan iseng mengajukan kasasi).
Jam 11.30, hakim memutuskan untuk istirahat. Dari sabar dan "menikmati" suasana sidang, saya mulai tidak sabar karena tidak dipanggil-panggil. Saya mulai marah-marah ke petugas-petugas yang ada di sana (tidak perlu saya ceritakan bagaimana saya marah-marah, terlalu panjang untuk ditulis di sini). Hakim datang kembali pukul 12.30 dan melanjutkan sidang sampai jam 13.30 sampai akhirnya dia menyatakan sidang selesai dan meninggalkan ruangan. Saya semakin panas dan marah-marah. Sementara itu, masih banyak orang yang baru datang dan memberikan slip merah tilang, dan nama saya masih belum dipanggil. Saya mulai berteriak ke para petugas yang mengurus berkas, sengaja supaya suara saya didengar oleh seisi ruang sidang.
"Pak, yang bener aja, nyari berkas aja masa iya 4 jam lebih ngga ketemu, kan ada nomornya!?!"
"Kamu aja sini yang gantian cari tuh berkas!"
"Sini saya cari sendiri ngga apa2, kasih ke saya aja tuh tumpukan berkas sama slip merah saya"
Petugas itu terdiam, sementara saya liat masih banyak orang yang baru memberikan slip merah dan sebagian besar berseragam dinas.
"Gimana berkas saya yang udah dimasukin dari jam 8 pagi tadi mau ketemu? Terima aja terus tuh slip-slip yang baru masuk. Perasaan dari jam 10 tadi hakim udah bilang jangan terima slip merah lagi? Urusin aja tuh semua yang dari calo-calo. Tuh... emangnya bapak pikir saya ga liat?? Tuh, barusan diterima tuh.. ada yang ngasih lewat bawah meja.. tuh lagi dari samping... terima aja terus Pak yang diselip-selipin sama calo!! Gimana saya punya mau ketemu?"
Saya tidak asal bicara, memang itulah yang terjadi. Banyak slip merah yang baru masuk dan diurus terlebih dahulu dan saya yakin mereka itu memang calo yang berasal dari 'orang dalam'.
Teriakan saya ada gunanya. Petugas langsung menolak slip-slip merah yang baru masuk, dan peserta sidang tilang lainnya ikut membantu saya mengawasi dan memprotes kalau petugas menerima slip merah yang baru datang. Satu orang petugas yang masih cukup sabar menghadapi saya menanyakan nama saya dan jenis SIM saya yang ditilang. Dia mencarikan slip merah saya sampai ketemu. Slip merah itu seharusnya dicocokan dengan berkas slip putih (asli) yang disatukan dengan SIM/STNK yang ditahan. Akhirnya... slip merah saya berhasil dia temukan. Tetapi..... "Bu, ini ternyata slip merahnya sudah kami beri tanda. Berkas ibu belum sampai ke sini, mungkin masih ada di Ditlantas."
Apa??? Sekian lama saya menunggu, ternyata hanya untuk mendapatkan jawaban seperti itu. Saya hampiri seorang petugas yang sepertinya sudah merasa sangat tidak enak dengan suasana yang ada. Menurut petugas itu, sidang hari ini memang sangat kacau dan tidak terkendali. Berkas-berkas menumpuk, banyak orang yang harus menunggu lebih dari 4 jam. Mereka sendiri tidak mengerti mengapa "terdakwa" sidang tilang hari itu jauh lebih banyak daripada biasa. Mereka memang tidak mengerti, tetapi mungkin saya mengerti. Mungkin, para "polisi" di jalan sudah "pintar". Mereka tau maraknya milis dan informasi mengenai lebih baik ditilang daripada mengambil "jalan damai" bisa mematikan "sumber uang" mereka. Ini mungkin bisa menjadi jawaban di comment blog saya sebelumnya yang menanyakan mengapa sidang harus menunggu lama sampai tanggal 29 sedangkan saya ditilang tanggal 17. Dengan kejadian ini saya mendapatkan kesan bahwa sejumlah besar "polisi" sudah membuat suatu "kesepakatan bersama" untuk tanggal sidang yang memang ditujukan supaya sidang tanggal tersebut sangat ramai, tidak terkendali, orang-orang kapok ditilang, dan kembali tersebar informasi dan milis bantahan terhadap informasi 'lebih baik ditilang'. Ini memang hanya asumsi saya, apakah asumsi saya benar... hanya 'mereka' yang tau.
Setelah si petugas memeriksa kembali dan memastikan bahwa memang di berita acara penerimaan berkas tilang hari itu berkas saya tidak terdaftar, saya mendapatkan informasi bahwa saya harus ke Ditlantas Polda di MT Haryono untuk mendapatkan SIM saya. Saya meminta surat atau apapun pernyataan dari mereka bahwa saya sudah menghadiri sidang sesuai dengan tanggal yang ada pada surat tilang tetapi berkas saya tidak ada. Ini saya tujukan untuk mencegah kemungkinan STNK saya ditahan di hari-hari berikutnya karena saya tidak dapat menunjukan SIM saya (saya sering melewati jalan yang hampir setiap hari ada razia) sedangkan tanggal sidang pada surat tilang saya sudah kadaluarsa. Petugas itu meminta saya untuk menemui Pak B*****g. Setelah saya temui, akhirnya beliau memberikan stempel 'Sidang Diperpanjang sampai dengan' yang kemudian dilanjutkan dengan tulisan tangannya '5 Juni 2007'. Tetapi stempel Nama dan NIP yang ada di bawahnya bukan namanya. Saya meminta pernyataan lebih lanjut bahwa saya sudah datang sidang, dan memina nama dan NIP nya juga ditulis. Meskipun terlihat kesal, dan sempat berucap "ngga sekalian gaji saya juga ditulis disitu?" dia tetap menulis di balik slip merah tilang saya, 'Ybs sudah menghadiri sidang tanggal 29 Mei, tetapi berkas tidak ada. B*****g.'
Keesokan harinya, saya minta tolong kepada staff saya untuk mengurus ke Ditlantas MT Haryono. Dari sana dia menelpon saya dan mengatakan bahwa bagian tilang Ditlantas menyatakan berkas saya sudah dikirim ke PN Jakarta Pusat (tempat saya sidang) sejak tanggal 22. Kemudian dia menuju ke PN Jakpus untuk meneruskan 'mencari' SIM saya yang "hilang". Dari PN itu, dia kembali menelpon saya dan mengatakan bahwa SIM saya tetap tidak ada dan saat dia ngomel-ngomel bahwa berarti SIM itu hilang dan tidak ada yang mau bertanggung jawab, dia mendapatkan jawaban, "Bisa saja sih Pak kalau mau dibantu, tapi ada ongkosnya." Dia tidak mau membayar 'ongkos' itu karena tidak jelas bagaimana prosedurnya, bagaimana prosesnya, dan dia tidak berniat meminta penjelasan. Menurut petugas wanita yang ditemuinya saat itu, mungkin SIM saya masih berada di polisi yang menilang saya, atau di Satpatwal di Sudirman. Yang jelas, saat itu slip merah tilang itu harus kembali ke tangan saya lagi.
Senin 4 Juni, saya berangkat sendiri ke Ditlantas MT Haryono. Nama saya cepat sekali dipanggil setelah menyerahkan slip merah ke bagian tilang. Petugas di sana menunjukan bahwa ada tulisan yang telah mereka tulis beberapa hari lalu di slip merah saya, bahwa berkas saya sudah dikirim ke PN Jakpus. Di sana tertera BA (Berita Acara) xxxxx/sid22. Saya mengatakan ke petugas itu, kalau saya sudah kembali ke PN Jakpus dan mereka tetap menyatakan tidak menerima berkas saya. Kemudian saya menanyakan apa yang harus saya lakukan. Mereka meminta saya menunggu sebentar. Tidak lama kemudian, ada seorang petugas berseragam kepolisian yang memasuki ruangan dan memanggil nama saya. Dia mengatakan, "Ibu ke PN JakPus, minta diperlihatkan berita acara penerimaan untuk sidang 22 Mei. Bilang kalau berkas ibu ini dikirim untuk sidang tanggal 22 Mei. Temui Pak B*****g, bilang kalau ibu sudah ketemu langsung sama Pak Haji N***o." (Hm, sepertinya yang namanya Pak B*****g itu punya peranan penting di PN Jakpus).
Saya langsung menuju ke PN JakPus. Sampai di sana, langsung saya hampiri ruang sudut dekat mesjid, tempat dulu Pak B*****g memberikan stempel di surat tilang saya. Beruntung, orang yang saya cari ada di situ. Saya mengatakan seperti yang dipesankan oleh Pak Haji N***o.
"Pak, saya diminta kesini nemuin bapak langsung oleh Pak N***o. Katanya berkas saya sudah dikirim untuk sidang tanggal 22 Mei dan itu ada di Berita Acara."
"Mbak datang tanggal berapa untuk sidang di sini?"
"Tanggal 29 Pak, sesuai dengan yang ada di surat tilang."
"Jadi kalau kita ngga bisa nemuin SIM mbak di kumpulan berkas tanggal 29, karena berkas mbak dikirim ke sini untuk sidang tanggal 22, itu salah siapa?"
"Saya ngga mau tau lagi deh Pak itu salah siapa, yang penting SIM saya balik."
SIM saya berhasil ditemukan dengan mudah di tumpukan berkas tanggal 22. Saya yakin petugas wanita yang ditemui oleh staff saya beberapa hari yang lalu seharusnya juga bisa menemukan berkas saya dengan mudah karena catatan dari Ditlantas MT Haryono tertulis jelas 'sid22' yang berarti sidang tanggal 22. Tidak mungkin petugas itu tidak mengerti kode itu. Seharusnya dia bisa langsung mencari SIM saya di tumpukan berkas tanggal 22 kalau dia tidak begitu menginginkan ongkos untuk "membantu" mencari SIM itu. Tetapi saat pikiran itu saya utarakan, saya hanya mendapat jawaban,
"Mbak ketemu siapa saat itu? Mana orangnya?"
"Sayang bukan saya sendiri yang datang waktu itu, jadi saya ngga tau siapa."
"Kalo ngga tau ya udah, jangan mengada-ada."
"Ya udah deh Pak, saya juga udah males debat. Sekarang gimana deh?"
"Tinggal bayar aja, 52.000. Denda 50, administrasi 2ribu."
Hm.. sebelum ke sana, saya sudah sempat membaca tarif denda resmi untuk pelanggaran lalu lintas yang saya dapatkan di website Masyarakat Transparansi Indonesia. Untuk kesalahan saya yang melanggar psl 61(1) yo psl 29.PP43/93 (Intinya ngelewatin lampu merah deh), seharusnya untuk denda resmi mobil pribadi hanya sebesar Rp25.000. Tetapi saat saya mengatakan kepada mereka bahwa saya tau denda resmi hanya 25ribu, saya harus dihadapkan pada tabel yang mereka keluarkan. Tabel itu berisi sama persis dengan print out yang saya miliki dari transparansi, tetapi semua angka dendanya berubah. Tidak ada satu pun yang sama, semua lebih tinggi. Saya lihat tahunnya, sama persis seperti yang saya print dari internet. Tadinya saya pikir itu undang-undang baru, mungkin keluaran tahun 2007 dan saya punya sudah tidak up to date. Ternyata... undang-undang yang sama dengan tahun yang sama, tetapi dengan isi yang berbeda. Hebat! Benar-benar teknologi yang mengerti anda ;)
Berkecamuklah beberapa pikiran dan pilihan di otak saya.
1. Saya ambil dulu print out yang saya miliki (kebetulan saya tinggal di mobil) untuk kemudian kembali berdebat dengan mereka... Tidak, sepertinya percuma berdebat dengan mereka, pasti saya kalah karena biar bagaimanapun SIM saya ada di tangan mereka.
2. Saya ambil SIM saya yang tergeletak di meja dengan cepat dan lari kabur ;p ... Lirik keluar, wah banyak orang yang memakai seragam polisi. Sekali ada yang teriak, pasti saya langsung tertangkap.
3. Saya biarkan SIM saya di sana dan menyatakan bahwa saya mau ikut sidang besok sesuai dengan stempel mereka 'sidang diperpanjang sampai tanggal 5 Juni'... Hm, mungkin bisa irit 25ribu, tetapi ongkos bensin saya? Jalan tol? Waktu saya? Dan kalau SIM saya tiba-tiba "hilang" lagi??
Memang sih sempat terlontar dari mulut saya, "Tabel daftar denda kaya begini saya punya 10 di rumah, isinya beda semua." Tetapi akhirnya saya menyerah tanpa syarat. Saya keluarkan uang 52.000 dari dompet saya, saya letakan di meja, saya ambil SIM saya, saya tinggalkan ruangan. Semua saya lakukan tanpa bicara sedikit pun (tidak tau apa lagi yang harus saya bicarakan) dan petugas di sana pun tidak mengatakan apa-apa lagi sampai saya pergi. Saya teringat perasaan saya saat saya ditilang tanggal 17 Mei (yang saya ceritakan di blog sebelum ini), perasaan yang bisa dibandingkan dengan orang yang membeli coin di TimeZone untuk main game, menyelesaikan game itu sampai finish dan menang. Saat ini saya tau, waktu itu saya belum menang, baru naik level. Sekarang saya baru ketemu 'raja'nya, dan saya kalah. 'Nyawa' saya sudah habis, game over.. dan budget saya untuk membeli coin supaya dapat 'continue' dan memenangkan game itu sampai finish sudah habis. Saya tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli coin lagi, biarlah permainan saya selesai di situ.
Sebagian besar teman-teman saya atau orang yang pernah melihat saya menyetir pasti menyatakan kalau saya adalah orang yang kalem dalam menyetir, sabar, dan tidak pernah cari masalah. Saya sendiri sebenarnya mengakui itu. Tetapi belakangan ini baru saya sadari bahwa ternyata saat saya sedang menyetir sendirian, tidak ada orang yang duduk di samping atau di belakang saya, saya malah cenderung lebih nekad dan suka memperpanjang masalah di jalan.
Saya tidak terlalu suka (kalau tidak dapat dikatakan benci) mendengar bunyi klakson. Saat sedang berhenti di lampu merah dan orang di belakang saya langsung memencet klakson saat lampu berubah menjadi hijau (kadang malah masih di kuning, belum sampai ke hijau), urat di otak saya mungkin ada yang langsung mem"bengkok" akibat dari bunyi klakson tersebut. Biasanya kalau kejadian itu terjadi saat saya sedang menyetir sendirian, saya malah sengaja untuk tidak menjalankan mobil saya sampai 1-2 menit kemudian biar orang di belakang saya itu puas memencet klakson ;) Atau bila bunyi klakson sudah berhenti (tanda si pengemudi sudah "puas" atau malas memencet klaksonnya lagi) atau mobil tersebut sudah berhasil mendahului saya baik dari sebelah kiri maupun kanan, barulah saya menjalankan mobil saya.
Pernah suatu saat, saya sedang menyetir mobil akan keluar dari jalan sempit yang sebenarnya cukup untuk 2 mobil tetapi menjadi tidak cukup karena samping kiri kanannya banyak motor parkir dan gerobak tukang makanan yang mangkal. Mobil saya sudah hampir berbelok ke jalan besar ketika ada angkot yang berbelok ke arah mobil saya. Otomatis kami berdua tidak bisa maju, saya tidak bisa keluar ke jalan besar dan dia tidak bisa masuk ke jalan sempit. Sebenarnya di belakang saya ada area yang agak luas. Saya hanya perlu mundur sekitar 2 meter supaya angkot itu bisa masuk. Tetapi karena saya merasa posisi saya yang benar dan angkot itu yang mau berbelok mendadak, saya ngotot tidak mau mundur. Dalam hati saya bergumam, 'siapa suruh mau langsung belok aja.. kan bisa tunggu sebentar sampai saya ke jalan besar baru deh masuk..' Saya pun memberi kode dengan tangan saya supaya dia mundur supaya saya bisa lewat. Sopir angkot itu berteriak menyuruh saya yang mundur. Saya ngotot diam di tempat, padahal saya tau kondisi jalan raya di belakang angkot itu cukup ramai dan akan sangat sulit bagi dia untuk mundur. Yah, begitulah 'tabiat' saya kalau sedang menyetir sendirian, sering keras kepala. Sekitar 3 menit saya diam di tempat, ada bapak-bapak yang menghampiri saya dan bilang, "Dik, tolong mundur sebentar dong. Angkotnya saya suruh masuk ke jalan ini buat ngangkut orang sakit." Wah, ternyata... Baru deh saya rela mundur dan membiarkan angkot itu masuk.
Di lain waktu, ada kejadian "lucu" di depan ITC Roxy Mas yang jalanannya sedang kacau parah karena pembangunan jalan (entah apa) yang tidak selesai-selesai. Jalanan agak merayap saat itu. Saya sedang menyetir, merayap mengikuti arus perlahan-lahan. Mungkin saya terlalu perlahan. Kenek bus di belakang saya tidak sabaran, turun mengetuk kaca mobil saya dan meminta supaya saya jalan lebih cepat. Otak saya kembali "bengkok", saya malah memberhentikan mobil saya dan tidak jalan sama sekali. Kenek bus itu mulai naik darah dan mengetuk kaca saya terus. Saya tetap diam di tempat dan pura-pura tidak mendengar sambil menggoyang-goyangkan kepala saya mengikuti irama musik di mobil saya. Sudah ada sekitar 10 meter area kosong di jalanan depan saya dan saya tetap belum menjalankan mobil. Kenek bus menghampiri bagian samping tempat saya menyetir, menggebuk kap depan mobil dengan tangannya sambil teriak ngomel-ngomel. Tau apa yang saya lakukan? Saya jalankan sih mobil saya, tetapi sebelumnya saya lihat dulu wajah si kenek dan saya julurkan lidah saya. Haha, kenek itu langsung berhenti berteriak dan menggebuk kap mobil loh. Hm.. mungkin dia pikir saya gila :D Mungkin teman-teman saya tidak percaya saya bisa seperti itu, karena seperti saya bilang tadi, saya suka nekad dan "iseng" hanya bila saya sedang menyetir sendirian.
Semua yang saya ceritakan di atas baru prolog ;) Ada kejadian yang menurut saya sangat menarik yang saya alami dan menyebabkan saya sangat ingin menulis blog ini. Sayang kalau cerita ini tidak dibagi-bagi. Hari itu, 17 Mei 2007, tanggal merah. Saya bekerja di restaurant di kawasan Kelapa Gading yang hari itu juga sedang mengadakan acara puncak Jakarta Fashion and Food Festival. Alhasil restaurant tempat saya bekerja pun hari itu sangat-sangat ramai. Pencapaian omset di hari itu mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah berdirinya restaurant itu sejak tahun lalu. Hari yang cukup melelahkan karena selain ramai, 3 orang staff saya tidak masuk. Ditambah lagi ada penyumbatan di saluran drainage kitchen yang mengakibatkan luapan air, melengkapi kelelahan dan "penderitaan" saya di hari itu. Saya baru bisa meninggalkan restaurant hampir jam 12 malam untuk pulang ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, sekitar jam setengah satu malam, saya melewati lampu merah di jalan Juanda. Saya mengarah ke kanan, ke arah Gajah Mada dan di titik ini lah 'kejadian' ini terjadi. Lampu sudah hijau untuk ke arah lurus, masih merah untuk ke kanan. Saya tidak menyadari itu, saya melewati lampu merah dan berbelok ke kanan. Tetapi saya sempat melihat mobil-mobil berjalan ke arah yang menghalangi saya untuk belok kanan. Saya baru sadar kalau lampu untuk ke kanan masih merah. Saya menghentikan mobil saya di posisi mobil saya sudah melewati tiang lampu merah. Di sebelah kanan saya pos polisi lengkap dengan 3 motor polisi gede di depannya. Nah, benar kan.. satu polisi menghampiri saya dengan motor itu, meminta saya untuk belok ke kanan dan meminggirkan mobil saya.
Biasa lah... periksa SIM dan STNK dan percakapan antara saya dan sang polisi. Sepertinya badan yang cape membuat otak saya juga error dan bicara asal-asalan plus agak 'nyolot'. Kurang lebih begini lah percakapan kami..
"Sudah tau kan apa salahnya?"
"Iya Pak, saya tau. Saya minta maaf Pak, saya salah liat lampu ijo buat yang lurus."
"Ya sudah, lain kali jalankan peraturan. Sekarang saya buatkan surat tilangnya." (sambil menulis-nulis)
"Ngga bisa dibantu aja Pak?" (sambil cari-cari dompet). Oh ya, ada yang lupa saya ceritakan.. Saya sedang dalam puncak "pelit" dan target saya di bulan ini adalah tidak mau mengeluarkan uang sama sekali kecuali untuk bensin dan jalan tol karena bulan lalu saya baru 'habis-habisan' mengeluarkan uang untuk jalan-jalan ke Bali. Niat saya saat itu untuk si Polisi pun tidak mau mengeluarkan uang lebih dari 10.000 rupiah.
"Dibantu bagaimana maksudnya ya?" (pura-pura tidak mengerti)
"Yah.. Bapak yang bayarkan saja lah dendanya, tapi saya cuma punya uang segini." (sambil menunjukan selembar 10ribuan)
"Ya udah, mbak bayar aja tuh di pengadilan di depan sana nanti tanggal 29" (IlFeel abis deh tuh polisi liat duit 10ribuan. Iya lah, naek motor gede, depan pos polisi, banyak temennya... mana mau 10.000)
"Yaelah Pak.. di sono juga buntut-buntutnya saya bayar juga ke calo. Udah lah Pak, saya baru pulang kerja nih." (dalem hati mikir, apa hubungannya ya..)
"Saya malah masih harus kerja sampe besok pagi" (mulai menunjukan tampang kesal)
"Itu sih urusan Bapak... Yang jelas, tolong dibantu aja lah Pak"
"Ya udah, mbak bayar aja sama yang di pengadilan. 10-15ribu mau di sana." (udah kesel banget)
"Emang bisa Pak saya bayar sekarang juga di sono?" (mengajukan pertanyaan bodoh yang saya udah tau jawabannya)
"Ngga sekarang. Tunggu nanti tanggal 29"
"Tanggal 29 saya belum tentu ada di Jakarta Pak" (bohong banget, memangnya saya mau kemana...)
"Itu urusan mbak, bukan urusan saya." (hahaha, saya dibalas)
"Bapak bener-bener ga binta bantu saya?"
"Kalau semua masyarkat saya bantu ya jadinya ngga bener"
"Yah.. alhamdulilah sih Pak kalau semua masyarakat bapak perlakukan seperti ini. Tapi saya yakin ngga semua masyarakat dibeginikan sih."
Polisi itu diam sambil terus menulis-nulis.
Tiba-tiba ada satu mobil keren gaul yang melakukan pelanggaran persis seperti yang saya lakukan (hm.. berarti mungkin memang lampu merah di situ menyesatkan). Dia diberhentikan oleh motor gede yang lain di depan mobil saya. Wah, 2 motor gede dan 2 opsir polisi yang menghampiri mobil itu. Polisi yang sedang menilang saya seperti terpikir satu hal. Dia menghampiri rekannya sebentar di dekat mobil depan untuk mengatakan sesuatu, baru kemudian kembali ke dekat mobil saya untuk meminta saya menandatangani surat tilang. Hm.. saya "mencium" bau tidak benar. Saya tidak langsung menjalankan mobil saya saat polisi yang menilang saya sudah pergi dengan motor gedenya. 1 menit kemudian pengendara mobil depan keluar dari mobil mengikuti satu orang polisi menyebrang jalan menuju ke arah pos. Satu orang polisi tetap di tempat. Saya tetap tidak menjalankan mobil saya. Sebenarnya badan saya sudah cape sekali saat itu. Tetapi anehnya rasa cape itu malah tidak terlalu saya rasakan saat itu dan rasa kesal karena ditilang malah hilang. Saya merasa seperti sedang main game :) Saya berpikir, saya sudah pasti akan mengeluarkan uang untuk menebus SIM saya nanti. Saya tidak mau keluar uang sia-sia, setidaknya saya harus puas dengan "game" yang saya mainkan sekarang.
Sekitar 5 menit kemudian saya masih di situ. Polisi satunya akhirnya membawa motor gedenya meninggalkan tempat itu. Saya tetap menunggu.. 5 menit.. 7 menit.. 10 menit.. Polisi yang tadi menyeberang duluan kembali mengambil motornya dan membawanya ke pos. Saya nyalakan mesin mobil saya (yang memang sudah sempat saya matikan). Tidak, saya tidak pulang.. saya hanya memajukan mobil saya mendekati mobil di depan saya untuk kemudian 'parkir' lagi di situ. Cukup lama saya menunggu. Bisa menebak apa yang saya tunggu? Saya mau menunggu pengendara mobil itu kembali ke mobil dan saya akan menghampiri pos untuk minta izin melihat SIM pengendara mobil tadi apakah benar-benar mereka tahan dan tilang. Iseng? Yah.. mungkin..
Hampir setengah jam saya menunggu. Teman si pengendara yang duduk di samping mobil depan tadi pun sepertinya sudah mulai tidak sabaran. Dia keluar dari mobil dan melihat ke arah pos. Akhirnya ada juga yang keluar dari pos, tetapi bukan si pengendara. Polisi penilang menghampiri mobil itu, kemudian masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankannya. Wah, saya bingung juga.. apa yang harus saya lakukan berikutnya.. Saya belum rela pulang begitu saja. Akhirnya.. saya keluar dari mobil, mengunci mobil saya, dan menyebrang menghampiri pos. Saya berdiri di depan pos di dekat motor-motor gede parkir. Yang saya takuti saat itu bukan dimaki-maki polisi, diisengin pengamen atau ditodong penjahat. Yang saya takuti cuma satu.. jangan sampai ada orang yang kenal dengan saya lewat jalan itu saat itu. Bisa malu saya kelihatan berdiri di depan pos polisi malam-malam buta ;) Saya yakin pengendara mobil tadi masih ada di dalam pos. Sambil terus menunggu, iseng saya hampiri motor-motor gede yang parkir. Saya ambil handphone saya, saya lihat satu persatu nomor-nomor motor mereka sambil berpura-pura mengetikan sesuatu di HP saya. Jujur saya tidak tau juga apa manfaatnya berbuat seperti itu. Saya ingin sekali mengirim SMS ke teman-teman dekat saya untuk menceritakan sedang apa saya saat itu. Tapi niat itu saya batalkan. Saya takut mereka jadi khawatir, padahal niat saya hanya berbagi kegembiraan. Saya menikmati sekali pemainan saya malam itu :)
Tidak lama kemudian, mobil "korban" tadi muncul dan parkir tepat di samping pos. Polisi yang menyetirnya tadi masuk lagi ke dalam pos. Saya tidak mau berdiri jauh dari mobil itu. Saya bisa melihat teman si pengendara sudah sangat tidak sabar. Jelas sekali saya melihat dia melirik berkali-kali ke jam tangannya karena kaca mobil itu dibuka. Cukup lama saya berdiri di situ. Akhirnya 2 orang polisi menghampiri saya, salah satunya adalah si penilang mobil depan tadi.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" (wah nada bicaranya sangat ramah)
"Oh, tidak Pak. Tidak apa-apa, saya cuma mau tau aja apakah benar semua mobil yang salah ditilang, bukan cuma saya." (sambil tersenyum)
"O iya mbak, pasti kita tilang."
"Wah, bagus kalau begitu. Seneng saya kalau memang semua polisi di sini taat peraturan"
"Iya, buku tilangnya tadi dibawa sama orang yang nilang mbak. Kita lagi nunggu dia" (memangnya buku tilang cuma ada satu ya tiap pos?)
"Oh ya udah, ngga apa-apa kok Pak, saya tunggu." (kenapa saya yang harus tunggu ya..)
Satu polisi lain mendekat. Polisi yang tadi berkata ke temannya "Ditilang aja tuh." (kok pake kata 'aja' ya?)
"Udah ada belum buku tilangnya?" (bertanya dengan cepat dan suara keras seakan-akan baru sadar kalau "hampir" 'salah bicara')
Si polisi yang baru datang tadi pergi lagi. Tapi sangat ramah loh polisi yang bersama saya saat itu. Dia malah mengajak saya ngobrol, bertanya dimana rumah saya, kerja di mana, dll dsb. Dan saat tau kalau saya kerja di restaurant dia malah bercerita kalau dia dulu pernah jadi koki, tapi nyasar jadi polisi.
"Mbak jangan salah sangka. Mobil ini prosesnya lama karena kita lagi nunggu balasan sms online dari Polda mengenai status STNKnya karena kita lihat ada kejanggalan. Status STNK itu bisa dicek melalui sms online loh mbak, mbak lihat deh" (sambil menunjukan handphone nya yang memang ada tulisan mobil nomor berapa, STNK tanggal berapa, dll dsb, saya tidak terlalu membacanya). "Mbak juga bisa cek online STNK mbak kalau mau. Tapi ya kadang begitu, responnya suka lambat. Nah mobil yang itu kita sms untuk cek status, belum ada jawabannya sampai sekarang makanya masih kita tunggu."
"Ooo begitu ya Pak. Tapi kok saya ditilang cepat sekali, kenapa yang ini lama ya Pak?"
"Ya itu tadi, karena STNKnya ada yang aneh, dan kita lagi nunggu data dari Polda"
Polisi yang tadi menilang saya datang dengan motor gedenya. Dia bertanya ke polisi yang sedang mengobrol dengan saya, "Ada masalah apa?"
"Ngga... ini.. lagi nunggu jawaban dari Polda.. lama belum masuk"
Tidak dijawab.. cuma diam beberapa saat lalu pergi lagi. Akhirnya si pengendara mobil "korban" keluar dari pos dengan muka entah dilipat berapa. Kesal sekali sepertinya dia keluar dengan membawa surat tilang berjalan ke mobilnya. Polisi yang mengobrol dengan saya mengatakan kepada saya kalau prosesnya sudah selesai. Saya masih iseng bertanya, "tapi dia bener-bener ditilang ngga Pak?"
"Benar kok mbak, itu sudah proses resmi" (sambil menghampiri mobil tadi dan meminta supaya pengendaranya menunjukan surat tilang yang dia terima). Pengendara itu benar-benar kesal. Saya yakin dia anak muda gaul yang malas ditilang dan niat sekali "berdamai" dengan si polisi. Dia melambaikan surat tilang itu ke arah saya sambil teriak, "Udah lah lu percuma.. Sama! Gue juga ditilang!" Hahaha, maap bung.. bukan maksud saya untuk merepotkan anda, anda cuma "korban" ;) Mungkin dia berpikir saya tetap menunggu sekian lama di sana supaya SIM saya tidak jadi ditilang. Bukan kok, bukan itu tujuan saya (tapi kalau iya, bagus juga sih). Saya cuma tidak rela saja kalau si polisi berhasil mendapatkan uang dari orang itu.
Belum cukup sampai di situ, saya tanya lagi si polisi tadi, "maaf Pak, boleh saya lihat SIM orang yang ditilang barusan. Apa SIM nya benar-benar ditahan?" Hebat sekali loh polisi itu masih tetap sabar dan ramah, mengajak saya untuk ikut masuk ke dalam pos. Dia meminta SIM orang tadi ke temannya, tetapi temannya malah memberikan STNK. STNK itu ditunjukan kepada saya dan memang yang tertulis di sana sesuai dengan merk, warna, dan nomor mobil tadi.
"Kok STNKnya yang ditahan ya Pak, bukan SIMnya?" (kasian orang tadi, mungkin dia lupa bawa SIM atau tidak punya SIM..)
"Kan pilihannya salah satu, SIM atau STNK. Mbak kalau mau SIMnya ditukar dengan STNK untuk ditahan juga boleh." Ada 3 orang polisi di situ yang berusaha menjelaskan dan semuanya berbicara dengan sangat ramah, wow.. Tapi entah kemana polisi yang menilang saya tadi, mungkin tekanan darahnya naik karena saya dan tidak mau kembali ke situ sebelum saya pergi ;)
"Ya sudah lah Pak, terima kasih ya.. Saya senang sekali, ternyata memang polisi disini semuanya mengikuti prosedur" (sambil tersenyum lebar)
Bah, apa peduli saya polisi mau ikut prosedur atau tidak.. Jelas sekali mereka 'terpaksa' ikut prosedur malam itu. Tetapi saya cukup yakin polisi-polisi dalam pos itu (kecuali yang menilang saya) tidak terlalu kesal dengan saya. Paling mereka hanya geleng-geleng kepala dan berpikir kalo saya ceweq nekad (atau mereka pikir saya wartawan? haha). Tetapi saya tidak bohong waktu saya bilang 'saya senang sekali'. Saya benar-benar senang saat itu, lupa dengan cape saya di tempat kerja, lupa dengan perasaan kesal saat awal ditilang. Hm.. mungkin otak saya benar-benar sedang kacau malam itu. Kalau dipikir lebih dalam, tidak ada untungnya kan saya berbuat seperti itu, hanya memperlambat perjalanan pulang saya (saya baru sampai di rumah jam 2 pagi). Mungkin perasaan saya saat itu bisa dibandingkan dengan orang yang membeli coin di TimeZone untuk main game, menyelesaikan game itu sampai finish dan menang. Mungkin malah lebih senang daripada itu.. Mungkin saya memang kacau, tapi yang jelas saya melanjutkan perjalanan pulang saya dengan tersenyum puas.. sangat puas. Buat saya ini suatu 'pengalaman' yang sangat menarik dan mengesankan.
Recent Comments